MEMBANGUN TUK-TUK SEBAGAI “KAWASAN WISATA DIGITAL” DAN SAMOSIR SEBAGAI “PEMERINTAHAN E-GOV”
November 26th, 2007
ADA PULAU DI TENGAH PULAU ? YA, SAMOSIR, NAMANYA! Di sanalah akhir pekan lalu, EGM Telkom Sumatra berada. Selain meresmikan layanan Speedy Broadband Access, mengunjungi pelatihan ‘Education for Tomorrow’ dan melihat ‘Media Center’ untuk Forum Bisnis IMT-GT, juga melakukan dialog panjang dengan Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon. Dua catatan penting dari dialog itu adalah : dikembangkannya kawasan Tuk-Tuk sebagai ‘Kawasan Wisata Digital’ dan mengembangkan Pemkab Samosir dengan layanan “e-Government”
Semangat Pemkab Samosir untuk menjadi Danau Toba sebagai asset berharga untuk mendrive sumber pendapatannya di tahun 2010 pantas diacungka jempol. Untuk itulah, Bupati Samosir berharap kepada Telkom untuk dapat membantu mengembangkan kawasan wisata di sana, khususnya Tuk-Tuk untuk menjadi ‘Kawasan Wisata Digital’. Seperti apa kondisi wisata Samosir saat ini ?
POTENSI SAMOSIR
Alunan lagu O Tao Toba dan Samosir yang dilantunkan Bonar Gultom melukiskan keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir. Bisa dikatakan Danau Toba dan Samosir merupakan satu paket. Kurang lengkap rasanya bila berwisata ke Danau Toba tetapi tidak berkunjung ke Pulau Samosir.
Pulau Samosir adalah pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba di Sumatera Utara. Suatu pulau dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Samosir menjadi kabupaten pada Januari 2004. Sebelumnya, pulau ini merupakan bagian dari Kabupaten Toba Samosir. Terdiri atas 9 kecamatan, yaitu Pangururan (Ibu Kota Kabupaten), Harian, Sianjur Mulamula, Nainggolan, Onan Runggu, Palipi, Ronggur Nihuta, Simanindo, dan Sitio-Tio.
Masing-masing kecamatan memiliki objek wisata, yang bila dikelola dengan baik akan mendatangkan nilai tambah bagi pulau yang berpenduduk 131.000 jiwa. Namun, sayang potensi wisata itu belum dikelola maksimal.
Pengelolaan Samosir sebagai Daerah Tujuian Wisata masih jauh dari optimal. Pegunungannya yang gundul terlihat di berbagai tempat di lokasi di kabupaten itu. Cuaca yang terik akhir-akhir ini semakin mengesankan kegersangan di tanah asal Suku Batak ini. Kondisi yang gersang dengan mata pencaharian utama bertani serta akses yang kurang membuat Samosir kurang berkembang dibanding tempat wisata lain. Tidak mengherankan, penduduk setempat banyak yang merantau ke luar Samosir. Menurut Bupati Samosir Mangindar Simbolon, sebagian besar lulusan SMA meninggalkan Samosir untuk mencari pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik.
Akses yang kurang menjadi satu dari sekian banyak hal yang menghambat perkembangan wisata di Samosir. Untuk mencapai pulau ini cukup memakan waktu. Perjalanan Jakarta ke Medan memakan waktu dua jam penerbangan, dilanjutkan dengan perjalanan darat memakan waktu empat jam dari Medan ke Parapat, dan menggunakan kapal feri 45 menit dari Dermaga Ajibata, maka seorang wisatawan membutuhkan waktu lebih dari tujuh jam. Waktu tempauh 45 menit akan lebih singkat menjadi 10 menit bila menggunakan speed boat.
TANAH LELUHUR
Pulau Samosir diyakini sebagai daerah asal orang Batak. Pasalnya, di pulau ini tepatnya di Pusuk Buhit Kecamatan Sianjur Mulamula merupakan asal orang Batak. Pusuk Buhit merupakan perbukitan dengan ketinggian lebih dari 1.800 meter di atas permukaan Danau Toba. Perbukitan ini dipercaya sebagai alam semesta atau “Mulajadi Nabolon” (Tuhan Yang Maha Esa) menampakkan diri. Di kecamatan ini ada Desa Sianjur Mulamula yang merupakan perkampungan pertama kelompok masyarakat Batak.
Desa ini berada di kaki bukit Pusuk Buhit. Di desa ini terdapat cagar budaya berupa miniatur Rumah Si Raja Batak. Sebagai informasi, sebutan Raja Batak bukan karena posisi sebagai raja dan memiliki daerah pemerintahan, melainkan lebih pada penghormatan keturunan Batak terhadap nenek moyang Suku Batak. Informasi yang beredar menyebut, Raja Batak berasal dari Thailand melalui Semenanjung Malaysia, Sumatera hingga tiba di Sianjurmulamula. Informasi lain menyebut Raja Batak berasal dari India melalui daerah Barus atau Alas Gayo hingga sampai ke Danau Toba.
Di perkampungan Sianjurmulamula, ada bangunan rumah semitradisional Batak, yang merupakan rumah panggung terbuat dari kayu, tanpa paku, dilengkapi tangga, dan atap seng. Rumah Batak asli atapnya dari ijuk. Di atas perkampungan terdapat wisata Batu Hobon. Batu ini merupakan peti terbuat dari batu yang dibuat oleh keturunan Raja Batak, Saribu Raja yang merupakan pandai besi ratusan tahun lalu. Di dalam peti batu ini disimpan kekayaan Saribu Raja, yang oleh masyarakat setempat saat ini tak seorang pun berhasil membuka tutup peti.
Di atas Batu Hobon terdapat Sopo Guru Tatea Bulan yang dibangun tahun 1995 oleh Dewan Pengurus Pusat Punguan Pomparan Guru Tatea Bulan. Bangunan ini terdapat di Bukit Sulatti (di bawah Pusuk Buhit), dan di dalam bangunan terdapat sejumlah patung keturunan Raja Batak berikut dengan patung sejumlah kendaraan si Raja Batak dan pengawalnya. Kendaraan itu antara lain naga, gajah, singa, harimau dan kuda. Jejak sejarah di Tanah Batak itu yang sering dilupakan pemerintah
PEDULI
Menyadari berbagai kekurangan itulah kemudian Pemkab Samosir ingin bekerja all-out (habis-habisan) untuk menjadikan wisata Danau Toba / Samosir sebagai daerah tujuan yang menarik. Salah satunya adalah digelarnya forum bisnus “IMT-GT” yang diikuti pebisnis dari tiga negara bertetangga. Informasi lain mengatakan, investor asal Singapura Trans Continental Resources Pte Ltd (TCR) berniat membangun kota pariwisata baru di Pulau Samosir, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut).
Pembangunan kota dengan mengutamakan keaslian alam dan budaya tersebut akan dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun dengan anggaran investasi tahap awal 100 juta dolar Singapura atau sebesar Rp 600 miliar.
Pembangunan kota pariwisata baru di Pulau Samosir ini oleh Director Trans Continental Resources Pte Ltd (TCR) Singapura, ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan (MoU) antara Pemkab Samosir dengan TCR Singapura tentang Percepatan Pembangunan di Kabupaten Samosir.
Pembangun infrastruktur guna mendukung pariwisata yang berada di lima lapisan yakni di daerah perairan, pesisir, lereng gunung, dataran rendah, dan dataran tinggi. Lokasi pembangunan kota baru pariwisata tersebut berada di 17 lokasi, di antaranya di daerah Lumban untuk membangun bandar udara dengan landasan pacu sepanjang 2.500 meter dengan total investasi US$ 20 juta. “Bandara ini nantinya bisa diterbangi pesawat berbadan besar seperti Boeing 737 dan Air Bus 320,” sebut sumber Intranet.
Rencana lainnnya, juga akan dibangun pelabuhan kapal yang akan menghubungkan Pulau Samosir dengan objek wisata lainnya seperti Parapat dan Muara. Rencananya di pesisir danau akan dibangun resor, villa yang persis di atas air dan dapat menikmati keindahan Danau Toba. Di lereng bukit juga akan dibangun resor, lokasi pembuatan kerajinan tangan, restoran dan lapangan golf.
Di dataran rendah akan dibangun hotel bertaraf internasional, spesial hospital, institut pariwisata guna mendorong industri pariwisata, dan institut penelitian alam. Investor juga akan memperbaiki infrastruktur jalan yang saat ini kondisinya kurang baik yakni tiga jenis jalan yang pertama jalan besar yang diperuntukkan untuk transportasi angkutan besar seperti bus.
Kedua, pembangunan jalan lebih kecil yang diperuntukkan alat transportasi sado, becak. Ketiga, jalan lebih kasar untuk perjalanan menggunakan kuda atau lebih cenderung untuk berwisata alam dan santai.
Bahkan, perkampungan dengan rumah adatnya akan tetap dilestarikan karena keindahan dan keunikan Pulau Samosir yang akan di jual kepada wisatawan.
Berkaitan dengan MoU itu, Bupati Samosir Mangindar Simbolon menyatakan untuk menindaklanjuti rencana ini, pihaknya akan merancang master plan atau tata ruang untuk kebutuhan pembangunan jangka menengah. Orientasinya menjadikan Pulau Samosir menjadi kota pariwisata pada 2010. “Perencanaan yang dibuat investor untuk membangun kota pariwisata ini akan disesuaikan dengan master plan yang dibuat Pemkab Samosir karena tidak jauh beda,” ujar Mangindar.
WISATA DIGITAL
Semua rencana itu baru akan terwujud bisa semua infrastrukturnya dibangun dan dikelola secara perofesional. Seperti Kata Maranti Tobing, Ketua PHRI Samosir sekaligus pengelola Hotel Toledo, bahwa kehadiran layanan Speedy Broadbanda Access dan dijadikannya Tuk-Tuk sebagai kawasan wisata digital akan mempercepat semua rencana itu. Ya, semoga tahun 2010, akan menjadikan Samosir sebagai kunjungan wisata yang menyenangkan
Leave a Reply